Rabu, 30 April 2014

Cerpen Budaya "Gayo Lues"



KU KEJAR MIMPI “KERAWANG GAYO TUA” NENEK

“Teeettt teeettt teeettt..” bunyi bel 3 kali pertanda istirahat.
Aku dan kawanku Septi seperti biasanya pergi ke rumah nenek yang berada tepat di samping kiri sekolah saat jam istirahat.
“Assalamu’alaikum nek..” salam kami kepada nenek dengan semangat.
“Wa’alaikumsalam etek-etek jeroh..” nenek menjawab sambil tersenyum hangat.
Nenek hidup sebatang kara. Dia sudah berumur sekitar 68 tahun. Semua anak-anak nenek sudah berkeluarga dan kakek sudah lama meninggal. Keseharian nenek hanya menanam sayuran di kebun samping rumahnya dan mengutip kemiri di ladangnya. Biasanya saat istirahat dan kami main ke rumah nenek, nenek sedang menjemur kemirinya. Sesekali nenek sedang mengopek kemiri yang sudah kering.
“Nek, aku bantu jemur kemirinya ya…” cetusku.
“Ya Ainur, pelan-pelan ya tek..” jawab nenek.
“Ya nek, serahkan semua ke Ainur, pasti beres..” kujawab dengan sedikit canda.
Selesai menjemur kemiri aku dan Septi duduk-duduk di teras bersama nenek. Aku suka sekali mendengar cerita nenek. Apalagi tentang baju kerawang gayo nenek yang sudah tua. Nenek selalu bercerita hal yang sama tentang masa mudanya dulu sebagai penari bines yang lincah. Walaupun begitu aku tidak pernah bosan mendengarnya, justru semakin sering aku mendengar cerita nenek, aku semakin takjub pada nenek.
Hari ini kami sangat beruntung karena tidak hanya mendengarkan cerita nenek satu kali lagi, tapi nenek pun menunjukkan baju kerawang gayonya yang sudah belasan tahun disimpan di lemari. Sambil menunjukkan baju itu, nenek sambil menjelaskan makna tiap warna di motif baju kerawang tersebut.
“Tek, warna benang yang menjadi ciri khas kerawang gayo itu ada kuning, merah, hijau, dan putih. Warna kuning itu berarti kebesaran dan keagungan yang dipakai oleh raja. Warna merah berarti keberanian. Warna hijau berarti kesuburan dan warna putih itu berarti suci. Bukankah sangat indah arti warna di kerawang gayo ini etek-etekku?” tanya nenek.
“Ya nek, indah sekali nek. Bu guru pun pernah menjelaskan tentang kerawang gayo nek,, katanya kerawang gayo itu adalah ragam hias atau motif hias yang diterapkan pada kain. Kerawang gayo menjadi ciri khas dataran tinggi tanah gayo dan merupakan kerajinan turun temurun. Kebanyakan pakaian yang diberi sulaman kerawang digunakan pada pakaian adat perkawinan atau pengantin. Nah, bu guru pun bilang ciri khas kerawang gayo terletak pada bahan, warna dan motif nek” cerita Septi panjang lebar sampai nafasnya terengah-engah.

Nenek tersenyum simpul dan melanjutkan ceritanya lagi.

“Benar sekali Septi. Kamu pasti murid yang baik dan selalu mendengarkan pelajaran dari bu guru” puji nenek pada Septi.

“Oya nek, sebenarnya bahan apa sih yang digunakan untuk membuat kerawang gayo itu nek?” tanyaku.

“Bahan dasar untuk kerawang gayo umumnya dipakai kain yang berwarna hitam, karena warna hitam dianggap dapat memberikan kehangatan sesuai dengan tempat tinggal masyarakat gayo yaitu di dataran tinggi dengan suhu yang dingin. Disamping itu juga agar pakaian tersebut tidak tampak cepat kotor. Seperti itu Ainur..” jelas nenek dengan sabar.

Belum puas Septi mendengar penjelasan nenek, dia pun bertanya lagi pada nenek.

“Nek, kalau motifnya ini macam-macam ya nek?” tanya Septi sambil menunjuk-nunjuk motif di kain kerawang nenek.

Belum lagi nenek sempat menjawab Septi sudah mengajukan pertanyaan selanjutnya selanjutnya dan selanjutnya.

“Ini nek? (sambil menunjuk motif yang lain), yang ini nek? (pindah sudah telunjuknya menunjuk motif yang lainnya lagi), yang ini? yang ini? yang itu?” tanya Septi tanpa henti.

Mendengar pertanyaan Septi yang tanpa henti nenek pun sampai terkekeh dan geleng-geleng kepala. Walaupun begitu semua pertanyaan Septi 98% dijawab oleh nenek.

“Ini coba diperhatikan ya tek. Motif kerawang umunya terinspirasi dari alam sekitar serta pengaruh alam yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Ada banyak motif kerawang seperti yang Septi tunjukkan tadi.
Pertama, ini Sara Kopat atau orang yang dituakan, ini berarti Raja, Imam, Petuah, dan Rakyat, apabila keempatnya berjalan dengan baik maka tercapailah kesempurnaan hidup. Yang ini Peger atau pagar yang berarti sesuatu telah dijaga, apabila diluar pagar bukan kepunyaannya lagi. Yang ini Emun Berangkat atau awan beriring berarti seiya sekata, kelurah sama menurun kebukit sama mendaki. Duduk sama rendah tegak sama tinggi. Yang ini Pucuk Rebung berarti anak muda yang akan menggantikan orang tuanya kelak maka harus diberikan pembinaan. Yang ini Puter Tali atau putar tali berarti sebuah ikatan kekeluargaan dan kebersamaan dalam menyelesaikan masalah bersama-sama. Yang ini Mata Pune atau mata burung punai berarti waspada terhadap sesuatu keadaan yang membahayakan. Yang ini Subang Kertan atau anting-anting dari bahan tanaman berarti keindahan yang harus dimiliki, meskipun tidak ada anting-anting yang sebenarnya, namun dapat dimanfaatkan tumbuhan di sekitarnya. Yang ini Tapak Seleman atau daun tumbuhan tapak seleman berarti hidup bergantung pada alam tumbuhan sekitarnya. Yang ini Jejepas atau tepas yaitu gabungan dari motif pucuk rebung, sara kopat, puter tali yang berarti antara muda-mudi dan orang tua terjalin satu ikatan yang kuat seperti jalinan tepas. Yang terakhir ini Rumet muriti atau rapat berbaris yaitu gabungan motif sara kopat dan peger diiringi oleh motif mata pune, yang berarti sama-sama berbaris rapat bergabung untuk menjaga keamanan antara Raja dan orang yang bertugas menjaga keamanan” jelas nenek sambil menunjukkan tiap2 motifnya.
Mata Septi pun terus mengikuti arah gerak telunjuk nenek tanpa berkedip. Aku pun sangat antusias dengan semua penjelasan nenek. Tidak terasa bel masuk pun sudah berbunyi. Cepat-cepat kami pamit sama nenek dan langsung lari menuju ke sekolah.

Tidak lama setelah kami sampai di kelas, bu guru pun masuk ke kelas. Sebelum memulai pelajaran aku memberanikan diri untuk bertanya tentang kerawang  gayo yang belum sempat aku tanyakan pada nenek.

“Ibu, boleh aku bertanya?”

“Ya Ain, mau tanya apa?”

“Begini bu, tadi nenek bercerita padaku dan Septi tentang kerawang gayo. Tapi, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal dibenakku bu, nenek menyebutkan banyak sekali motif kerawang gayo. Akan tetapi aku sering melihat kerawang-kerawang gayo yang baru dengan motif yang berbeda, apa motifnya sudah berubah bu?” cetusku dengan polosnya.

“Begini Ainur, memang kerawang gayo memiliki banyak motif. Nah, motif-motif itu sudah banyak yang dimodifikasi menjadi bentuk-bentuk motif baru tanpa menghilangkan kaidah bentuk yang asli seperti halnya motif emun berangkat yang banyak diminati pasar sehingga pengrajin membuat modifikasi-modifikasi dalam bentuk lain. Seperti itu Ain..” jelas bu guru.

“Oo..gitu ya bu..”
“Iyaa.. sudah Ain?”
“Sudah bu, terima kasih penjelasannya ya bu..”
“Iya sama-sama Ain..”

Lalu kami melanjutkan pelajaran IPA. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30, bel pulang pun berbunyi..”Teeettt..teeettt..teeettt..teeettt..”. Semua anak-anak bubar keluar dari ruang kelas. Sebelum pulang aku masih teringat dengan kerawang gayo nenek yang sudah tua, yang aku lihat sewaktu istirahat tadi. Akhirnya kuputuskan untuk melihat sekali lagi baju kerawang gayo nenek.

“Neneeekk..nenek..” teriakku sambil berlari-lari kecil.
“Iya etek jeroh, hana ken?” tanya nenek.
“Nek, boleh tidak aku melihat baju kerawang gayo nenek, sekaliiiii lagi..” rayuku pada nenek.

Tanpa menjawab nenek langsung masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan aku yang terbengong. Tiba-tiba nenek keluar rumah lagi dan membawa baju kerawangnya. Aku senang sekali. Sambil memeluk baju kerawang nenek sambil aku loncat-loncat kegirangan. Nenek hanya tersenyum keheranan melihat tingkahku.

“Kamu boleh membawanya pulang Ain, tapi dengan satu syarat..” kata-kata nenek yang membuat aku terkejut.

“Apa nek? Aku boleh meminjam baju kerawang nenek?” tanyaku masih tidak percaya.

“Iyaa..tek. Karena etek baik dan jeroh, baju kerawang itu bukan nenek pinjamkan ke kamu, tapi nenek kasihkan ke kamu Ain. Mera ke kam?” tanya nenek yang membuat aku semakin tidak percaya.

“Mau neekk…” aku pun tersenyum sangat lebar.

“Tapi dengan satu syarat..kamu harus menjaganya baik-baik dan kamu harus bisa mewujudkan mimpi nenek yang gagal dulu untuk menjadi penari bines yang lincah dan terkenal, bagaimana?” tanya nenek dengan serius.

“Iya nek, makasih nenek. Aku janji akan mewujudkan mimpi nenek” jawabku tanpa aling-aling.

Matahari yang masih terik menemaniku sampai di rumah. Panas pun tidak terasa lagi karena baju kerawang gayo yang dikasih nenek. Mamak menanyakan dari mana aku dapat baju itu. Aku jelaskan secara rinci pada mamak. Pesan mamak aku harus menepati janjiku pada nenek.

Aku coba baju kerawang nenek dan kulihat di cermin. Begitu pas di tubuhku. Mungkin dulu waktu nenek masih muda dia sebesar aku sekarang. Sungguh cantik baju ini dan sungguh beruntungnya aku memilikinya. Senyumku pun tak usai-usai. Aku berani berjanji pada nenek karena kemampuanku menari bines tidaklah terlalu buruk. Aku termasuk penari terbaik di sekolahku. Walaupun lomba tari bines yang terakhir kali, sekolahku masih kalah ditingkat kabupaten, aku yakin dengan berusaha berlatih terus dan bekerja keras, pasti akan dapat bersaing sampai ditingkat nasional, bahkan internasional. Apalagi sekarang aku memiliki penyemangat baruku yaitu baju kerawang nenek.

Sore ini aku tidak sempat untuk menulis di dearyku. Selain membantu mamak di rumah, hari ini pun banyak PR yang harus dikerjakan.

Saat malam tiba sepulang ngaji aku dengan semangat yang membara giat belajar tari bines di rumah. Mamak rajin mengajariku. Jika ada kesalahan dalam lirik, pasti mamak membenarkannya. Sewaktu masih muda, mamak pun pandai menari bines. “Mungkin mamak menurunkan bakatnya padaku” pikirku sendiri. Setelah pukul 9 malam, aku beranjak tidur. Tapi sebelumnya aku menyiapkan roster untuk besok pagi terlebih dahulu.

“Allahuakbar Allaahuakbar….” Adzan subuh berkumandang.

Aku langsung mengambil wudhu dan pergi ke menasah untuk shalat subuh berjamaah. Sepulang dari menasah aku mandi dan siap-siap berangkat ke sekolah. Aku sering berangkat sekolah sendiri, kadang sesekali bersama dengan Septi. Hari ini aku pun berangkat ke sekolah sendiri. Karena pasti aku datang lebih awal dibandingkan dengan teman-temanku yang lain. Jarak rumahku dengan sekolah sekitar 2 kilometer dan memerlukan waktu sekitar 1 jam perjalanan dengan jalan kaki.

Mentari pagi menemani perjalananku sampai di sekolah. Dia masih malu-malu mengintip di balik bukit. Dengan riang dan gembira aku berjalan sambil bernyanyi bines. Setibanya di sekolah aku kaget melihat rumah nenek yang rame orang. “Ada apa di rumah nenek?” benakku.
Aku melihat pamanku terburu-buru menuju ke rumah nenek. Aku berlari-lari kecil mendekatinya dan bertanya “Ada apa paman di rumah nenek?”. Paman menjawab “Nenek Surti meninggal”. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari sekencang-kencangnya ke rumah nenek. Air mata ku pun jatuh tak tertahankan. Sangat deras.

Benarlah, sampai di rumah nenek aku melihat nenek yang sudah dikafanin. Tidak melihat kerumunan yang sedang membaca surat yasin untuk nenek berkali-kali, aku langsung masuk dan menangis tersedu-sedu.
“Maafkan Ainur nek. Ain belum sempat meminta maaf sama nenek, Makasih baju kerawang nenek yang diberikan pada Ain. Ain akan menepati janji Ain pada nenek” aku berbicara tanpa sadar dengan deru tangisku.
Setelah itu aku sadar dan langsung mengambil wudhu. Membacakan surat yasin untuk nenek. Karena bel sudah berbunyi aku harus masuk sekolah. Di sekolah pun aku tidak bisa berkonsentrasi. Tangisku tiada henti, selalu mengalir walaupun sudah kutahankan. Alhamdulillah semua dewan guru juga akan melayat ke rumah nenek. Pelajaran hanya sampai pukul 10.00.

Bel berbunyi 4 kali tepat pukul 10.00. Aku langsung lari menuju rumah nenek. Air mata yang tadinya sudah berhenti, kini mengalir deras lagi. Terlihat orang-orang sudah membawa jenazah nenek ke kuburan. Aku ikut mengantarkan nenek ke tempat tidurnya yang terakhir. Semua orang sudah pergi, tinggallah aku sendiri termangu di samping kubur nenek. Aku masih tidak percaya kalau nenek sudah tidak ada. Septi membujukku untuk pulang bersamanya. Tapi aku bilang aku masih ingin disini. Setelah sekitar satu jam, mamak menjemputku. Dia membujukku untuk pulang. Akhirnya aku pun pulang bersama mamak.

Sampai di rumah aku langsung mencari dearyku. Aku lari ke kamar dan kutumpahkan semua yang ada dibenakku.

Dear Deary,

Deary.. nenek sekarang sudah tidak ada.  Tidak ada lagi nenek yang selalu bercerita tentang kerawang gayo saat istirahat. Tidak ada lagi nenek yang setia mendengarkan ceritaku. Tidak ada lagi nenek yang  selalu memanggilku etek jeroh. Aku tidak percaya kalau nenek meninggalkanku secepat ini. Aku sangat sedih deary.
Jika aku diizinkan, aku ingin memeluk nenek sekali saja. Rasanya baru kemarin nenek memberikanku baju kerawang gayonya. Seperti wasiat terakhir yang diberikan nenek padaku untuk menjadi penari bines yang lincah dan terkenal.  Aku berjanji akan menepati janjiku pada nenek. Aku akan berusaha keras untuk belajar tari bines. Aku tidak akan mengecewakan nenek yang sudah percaya sekali padaku. Tidak hanya di sekolah, di rumah pun aku akan lebih giat belajar tari bines.
Tidak sadar dari awal aku menulis deary air mataku tak ada hentinya mengalir hingga aku selesai menulis. “Nenek..nenek..nenek..nenek…” selalu itu yang muncul dipikiranku. Semoga semua amal dan ibadah nenek diterima disisiNya. Amiin..

Setahun kemudian setelah aku naik di kelas VIII aku berhasil memenangkan perlombaan perwakilan bines dari kabupaten Gayo Lues ke tingkat Internasional. Aku akan dikirim ke sebuah Festival di Singapura. Alhamdulillah.. terima kasih nenek. Ain sayang nenek. 

Karya : Endah Kurniatun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar